Self photo studio sedang menjamur di berbagai kalangan. Tren berswafoto di dalam ruangan kecil dengan waktu yang sudah ditentukan ini menawarkan pengalaman foto yang berbeda. Nggak perlu fotografer, cukup masuk ke studio, atur pose sesuka hati, lalu abadikan momen bersama orang-orang terdekat.
Kelihatannya simpel, ya? Tapi di balik ruangan kecil dan kamera yang siap memotret, ada bisnis self photo studio yang perlu dirancang dengan matang. Mulai dari menentukan konsep, memahami target pasar, sampai memikirkan bagaimana membuat pelanggan tertarik untuk datang kembali.
Hal ini dibahas tuntas dalam Sesi Bedah Bisnis, season baru dari kegiatan Rintisan yang menghadirkan pelaku usaha untuk berbagi pengalaman dan insight bisnis. Salah satunya adalah Solophoto, sebuah usaha self photo studio sukses yang didirikan oleh Ridha Maharani, S.Pd., M.I.Kom.
Memulai Bisnis Self Photo Studio: Berawal dari Riset, Lalu Dicoba lewat Pop-Up
Sebelum menentukan konsep bisnisnya, Ridha melakukan riset mendalam mengenai tren self photo dari berbagai negara, termasuk Korea dan Singapura. Riset ini menjadi langkah krusial bagi Solophoto untuk mencari referensi unik dan menentukan konsep studio yang relevan dengan pasar Indonesia.
Menariknya, Solophoto tidak langsung menyewa ruko besar. Mereka memulai perjalanannya dari konsep pop-up self photo di berbagai bazar. Melalui format pop-up ini, Solophoto bisa langsung melihat bagaimana respons pasar secara nyata dengan modal yang lebih terukur. Setelah pasarnya terbukti organik dan kuat, barulah Solophoto berkembang menjadi studio foto permanen.
Perjalanan ini menunjukkan bahwa sebuah bisnis self photo studio nggak harus langsung dimulai dalam skala besar. Melakukan riset, menguji konsep, lalu melihat bagaimana pasar merespons adalah fondasi terpenting dalam meminimalkan risiko kerugian bagi pemula.
Mengupas Strategi Bisnis Self Photo Studio ala Solophoto
Dalam Sesi Bedah Bisnis Rintisan, terungkap bahwa Solophoto menggunakan pilar strategi bisnis studio foto berbasis marketing mix 4P yang dimodifikasi secara modern. Berikut adalah poin-poin yang bisa kamu contek:
- Product: Menawarkan pengalaman foto privat yang nyaman dan penyediaan fasilitas studio yang mendukung kebutuhan pelanggan.
- Price: Menentukan harga fleksibel yang dihitung berdasarkan durasi, jumlah orang, paket cetak foto, hingga fitur tambahan (add-on).
- Place: Memilih lokasi studio yang strategis, mudah diakses, dan sesuai dengan target pasar anak muda.
- Promotion: Memaksimalkan media sosial, kolaborasi dengan influencer, iklan online, hingga program diskon dan loyalitas.
Tertarik Mulai Bisnis Sendiri?
Setelah melihat perjalanan Solophoto, mungkin kamu jadi punya gambaran soal bisnis yang ingin dibangun. Tapi kalau masih bingung mau buka bisnis apa, nggak perlu mulai dari nol.
Marketplace Rintisan punya banyak pilihan bisnis yang bisa kamu pilih sesuai minat dan kebutuhan. Cari peluangnya, pilih bisnisnya, dan mulai bangun bisnis kamu bersama Rintisan!